-->
  • Jelajahi

    Copyright © trilokanews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Atas 2

     


    Iklan Atas 1

    Cece Rusmana Ketua SPSI PT AHM Gaungkan Perlindungan Buruh di Peringatan May Day

    trilokanews
    Sabtu, Mei 02, 2026, 02.37 WIB Last Updated 2026-05-01T19:39:11Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    trilokanews.com - Jakarta - Ribuan buruh dari berbagai sektor memadati kawasan Monumen Nasional (Monas) dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), Jumat (1/5/2026). Momentum tahunan ini dimanfaatkan sebagai ajang konsolidasi sekaligus menyuarakan aspirasi pekerja terkait kesejahteraan dan keberlangsungan industri nasional.

    Di tengah gelombang massa tersebut, Ketua Serikat Pekerja PUK SP LEM SPSI PT AHM, Cece Rusmana, turut hadir bersama para anggota dari PT Astra Honda Motor. Ia menegaskan bahwa peringatan May Day bukan sekadar hari libur, melainkan simbol perjuangan panjang kaum buruh dalam menuntut hak atas kehidupan yang layak.

    “May Day adalah pengingat bahwa hak-hak yang kita nikmati hari ini lahir dari perjuangan panjang dan pengorbanan para pekerja di masa lalu,” ujar Cece di sela-sela aksi.

    Sejarah Panjang Perjuangan Buruh

    Peringatan Hari Buruh memiliki akar sejarah yang tidak sederhana. Mengacu pada catatan Industrial Workers of the World (IWW), gerakan ini bermula sejak abad ke-18 ketika para pekerja dipaksa bekerja antara 10 hingga 16 jam per hari dalam kondisi yang jauh dari kata layak.

    Puncaknya terjadi pada tahun 1884, ketika Federation of Organized Trades and Labor Unions (FOTLU) di Chicago, Amerika Serikat, mendeklarasikan tuntutan revolusioner: delapan jam kerja per hari mulai diberlakukan pada 1 Mei 1886. Gerakan ini kemudian mendapat dukungan luas dari berbagai organisasi buruh lainnya dan menjadi tonggak lahirnya solidaritas pekerja di seluruh dunia.

    Sorotan: Ancaman Produk Impor

    Dalam orasinya, Cece Rusmana menyoroti tantangan yang dihadapi industri dalam negeri saat ini, terutama derasnya arus produk impor. Menurutnya, kondisi ini berpotensi mengancam keberlangsungan perusahaan lokal sekaligus nasib para pekerja Indonesia.

    “Banjirnya produk impor yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri akan mematikan industri nasional. Jika industri dalam negeri melemah, maka yang terdampak langsung adalah para buruh,” tegasnya.

    Ia menekankan pentingnya kebijakan yang berpihak pada penguatan industri domestik sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas lapangan kerja.


    Selain isu industri, massa buruh juga menyuarakan berbagai tuntutan lain, mulai dari peningkatan kesejahteraan, perlindungan tenaga kerja, hingga kepastian kerja di tengah dinamika ekonomi global.

    Peringatan May Day 2026 di Monas juga diwarnai dengan berbagai aksi damai, spanduk aspirasi, serta orasi dari sejumlah tokoh serikat pekerja. Bahkan, sejumlah ruas jalan di sekitar kawasan sempat ditutup sementara untuk mengakomodasi besarnya jumlah peserta aksi.

    Bagi para buruh, May Day bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, ini adalah momentum memperkuat solidaritas dan mengingatkan semua pihak bahwa kesejahteraan pekerja merupakan fondasi penting bagi kemajuan bangsa," tutupnya ( Muhammad Irwan)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini