Trilokanews - Musi Rawas, Pengelola Dapur Rumah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlokasi di Desa Simpang Gegas Temuan, Kecamatan TPK, Kabupaten Musi Rawas, angkat bicara menanggapi pemberitaan di salah satu media terkait dugaan perekrutan karyawan yang dinilai tidak transparan dan memicu kekecewaan sebagian warga. Minggu , 11, Januari 2026
" Inisial RS, selaku masyarakat Sigastu, yang diterima menjadi karyawan MBG beberapa hari yang lalu, saat dikonfirmasi oleh awak media Ia menceritakan bahwa 90 % yang diterima sesuai surat lamaran ke pengelola MBG, itu pribumi asli orang TPK semua.
" Kalau ada orang bilang banyak orang luar daerah yang terima dan banyak sanak, kerabat yang di terima pegawai MBG tu salah. Masalah orang diterima kerja di MBG memang benar - benar di interview buat berkas bukan asal - asalan bukan juga main tunjuk - tunjuk saja. Yang melakukan interview memang dari ahli gizi. Dan yang lolos interview di terima di MBG, ", ucapnya.
Jadi fakta dilapangan memang benar sudah di seleksi langsung di interview secara benar. Kami sangat bahagia dengan adanya dapur MBG di TPK ini bisa membantu masyarakat sekitar untuk dapat bekerja. Dan kami sebagai warga sigastu bisa membantu ekonomi kami, harapan kami selaku masyarakat untuk kedepannya, semoga MBG terus berlanjut, sebagai relawan MBG sangat berterima kasih, tutupnya.
Sedangkan tanggapan dari pihak pengelola dapur MBG, menegaskan bahwa hingga saat ini, Program MBG di Desa Simpang Gegas belum beroperasi secara penuh. Sehingga proses perekrutan tenaga kerja (Karyawan) masih dilakukan secara bertahap dan terbatas, menyesuaikan dengan kebutuhan awal operasional dapur.
“ Perlu kami sampaikan secara terbuka, MBG ini belum berjalan penuh. Jumlah tenaga kerja yang direkrut masih sangat terbatas dan bersifat sementara untuk kebutuhan awal, ” ujar pihak pengelola MBG, ke awak media.
Terkait tudingan adanya praktik nepotisme atau perekrutan yang hanya melibatkan keluarga dan kerabat tertentu, pengelola MBG dengan tegas membantah hal tersebut. Menurutnya, tidak ada kebijakan yang mengutamakan hubungan kekeluargaan dalam proses perekrutan.
“ Itu tidak benar….!!, jika dikatakan kami hanya merekrut keluarga atau kerabat. Jika pada tahap awal ada pekerja yang kebetulan memiliki hubungan keluarga, itu bukan karena faktor kedekatan, melainkan karena kesiapan dan kebutuhan teknis di lapangan,” tegasnya.
Ditambahkan pihak pengelola dapur MBG, pada tahap awal operasional, pihaknya memang memprioritaskan warga yang siap bekerja dalam waktu cepat, memahami kebutuhan dapur, dan berdomisili di sekitar lokasi, guna memastikan program dapat berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Serta seluruh pelamar di dapur MBG, semua nya lengkap baik dari surat lamaran sampai tes bebas narkoba.
Di sisi lain, pengelola MBG juga mengakui bahwa sosialisasi kepada masyarakat masih belum maksimal, terutama terkait mekanisme rekrutmen dan tahapan operasional program. Hal tersebut diakui sebagai bahan evaluasi ke depannya.
“ Kami tidak menutup diri dari kritik. Justru ini menjadi masukan penting, agar ke depan mekanisme rekrutmen bisa lebih terbuka, terstruktur, dan diketahui masyarakat luas, ” ujarnya.
Pengelola menegaskan, ketika MBG telah berjalan penuh, kesempatan kerja akan dibuka secara lebih luas dan transparan, dengan tetap mengutamakan masyarakat sekitar, khususnya warga Kecamatan TPK.
Program Rumah Makan Bergizi Gratis sendiri sejak awal dirancang sebagai program sosial untuk membantu pemenuhan gizi masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga setempat. Karena itu, pengelola berharap polemik yang muncul tidak mengaburkan tujuan utama program tersebut.
“ Kami berkomitmen menjalankan MBG sesuai prinsip keadilan sosial, keterbukaan, dan keberpihakan kepada masyarakat. Kepercayaan publik adalah hal utama yang akan terus kami jaga. Dengan adanya klarifikasi ini, pengelola MBG berharap masyarakat yang berada di Kecamatan TPK tidak terpancing isu belum tentu kebenarannya. Karena dengan isu tersebut dapat menggangu jalannya program MBG. Seharusnya dengan adanya dapur MBG di Kecamatan TPK ini, dapat menaikkan nilai perekonomian masyarakat sekitar dan dapat mendukung pelaksanaannya, agar manfaatnya benar-benar dirasakan bersama, ” tegasnya.
Sedangkan aturan cara mekanis mendirikan dapur MBG bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan gizi masyarakat, khususnya anak sekolah, ibu hamil, dan balita, dengan menyediakan makanan bergizi harian guna menekan stunting dan gizi buruk, sekaligus menjadi sarana edukasi gizi dan penggerak ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM serta petani setempat, menciptakan SDM berkualitas untuk Indonesia Emas 2045.
Serta manfaat adanya Dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) memberikan manfaat signifikan bagi warga sekitar dengan menciptakan lapangan kerja lokal (juru masak, relawan, sopir), meningkatkan ekonomi melalui pembelian bahan baku dari petani dan pedagang sekitar, memberikan penghasilan tambahan bagi relawan, serta mendorong aktivitas ekonomi baru seperti peternakan ayam dan UMKM, sekaligus menggerakkan ekonomi desa dan memberdayakan masyarakat setempat melalui partisipasi aktif dalam program MBG. (A_01-GTR).



