masukkan script iklan disini
trilokanews.com - Kabupaten Bekasi - Di balik berdirinya perusahaan-perusahaan terbesar di Asia tenggara yang berada di Kabupaten Bekasi, namun masih ada warga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Salah satunya adalah Mak Enah (66), warga Kampung Wates, Desa Sarimukti, Kecamatan Cibitung, yang hingga kini terpaksa bertahan di rumah reyot yang nyaris ambruk.
Rumah berukuran sekitar 10 x 4 meter itu sudah tidak lagi layak dihuni. Dari tiga bagian ruangan yang ada, hanya ruang tengah yang masih bisa ditempati. Sementara kamar dan dapur telah rusak parah. Dinding bilik bambu banyak yang hilang, atap bocor di berbagai sisi, dan bangunan terlihat miring sehingga berpotensi roboh sewaktu-waktu.
Agar tidak ambruk, bagian sisi kiri rumah hanya ditopang sebatang balok kayu dan bambu sebagai penyangga darurat.
Dengan suara lirih, Mak Enah mengaku sudah sekitar sebelas tahun tinggal di rumah yang kondisinya semakin memprihatinkan. Meski dihantui rasa takut setiap hari, ia tidak memiliki pilihan lain karena keterbatasan ekonomi.
"Sendiri aja di sini. Udah lama, sekitar sebelas tahun. Rumah ini hak milik, kalau direhab juga tidak ada masalah," ujar Mak Enah saat ditemui di kediamannya, Minggu (28/6/2026).
Mak Enah mengaku tak memiliki biaya untuk memperbaiki rumahnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ia bergantung pada penghasilan suaminya yang mencari limbah paku dengan pendapatan yang tidak menentu.
"Jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk makan sehari-hari saja susah. Saya sudah tidak mampu bekerja, suami cuma cari limbah paku, penghasilannya juga tidak menentu," tuturnya.
Anaknya yang telah berkeluarga juga belum mampu membantu karena kondisi ekonomi yang sama-sama pas-pasan. Akibatnya, Mak Enah memilih tetap tinggal di rumah yang mengancam keselamatannya.
Setiap musim hujan datang, air dengan mudah masuk ke dalam rumah karena atap yang bocor dan dinding yang sudah rusak. Demi keselamatan, ia terpaksa mengungsi ke rumah anaknya hingga hujan reda.
"Kalau hujan air pasti masuk ke dalam semua. Kalau hujan ya nginep di rumah anak," katanya.
Ironisnya, hingga kini Mak Enah mengaku belum pernah menerima bantuan Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. Padahal, menurut pengakuannya, aparat desa maupun pihak kecamatan sudah beberapa kali datang untuk mendata kondisi rumahnya.
Namun, pendataan itu belum pernah berujung pada realisasi bantuan.
"Difoto-foto doang sama pegawai desa, cuma enggak dibangun-bangun," keluhnya.
Kondisi yang dialami Mak Enah menjadi potret masih adanya warga yang hidup di bawah ancaman bangunan nyaris roboh. Di tengah berbagai program perbaikan rumah tidak layak huni yang terus digaungkan pemerintah, kisah Mak Enah menjadi pengingat bahwa masih ada masyarakat yang berharap janji bantuan dapat benar-benar diwujudkan, bukan sekadar didata dan difoto.
Kini, harapan Mak Enah sangat sederhana: memiliki rumah yang aman untuk ditempati di sisa usianya, tanpa rasa cemas setiap kali hujan turun atau angin kencang menerpa.
Reporter Catur Sujatmiko




