masukkan script iklan disini
![]() |
| Foto Istimewa |
trilokanews.com - Kabupaten Bekasi - Ancaman musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga September 2026 mulai diantisipasi serius oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi. Meski hingga pertengahan Juni belum ditemukan kasus kekeringan maupun gagal panen (puso), langkah mitigasi telah dipercepat guna memastikan produksi padi tetap aman dan ketahanan pangan daerah tidak terganggu.
Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dodo Hadi Triwardoyo, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin menunggu bencana datang baru bertindak. Berbagai strategi telah dijalankan sejak dini untuk mengurangi risiko dampak musim kemarau terhadap lahan pertanian.
"Hingga saat ini belum ada laporan sawah mengalami kekeringan ataupun puso. Namun, kami terus meningkatkan kesiapsiagaan agar kondisi tersebut tetap bisa dicegah," ujar Dodo pada Senin (15/6/2026).
Sebagai daerah lumbung padi di Jawa Barat, Kabupaten Bekasi memiliki sejumlah wilayah yang setiap musim kemarau berpotensi mengalami keterbatasan pasokan air. Berdasarkan hasil pemetaan, kawasan yang menjadi perhatian utama meliputi Kecamatan Tambelang, Sukatani, Cabangbungin, Sukawangi, dan Sukakarya.
Mengantisipasi hal tersebut, Dinas Pertanian melakukan pendataan alat dan mesin pertanian, khususnya pompa air, untuk memastikan kesiapan jika debit air irigasi mulai menurun. Selain itu, identifikasi sumber-sumber air alternatif juga terus dilakukan agar distribusi air ke lahan pertanian tetap terjaga.
Tidak hanya mengandalkan kesiapan internal, Dinas Pertanian juga memperkuat koordinasi dengan berbagai instansi, mulai dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta II (PJT II), Kementerian Pertanian, Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, Dinas SDA Kabupaten Bekasi, hingga kelompok tani di lapangan.
Kolaborasi tersebut difokuskan pada perbaikan jaringan irigasi, penguatan tanggul, normalisasi saluran air, hingga pengaturan distribusi air agar kebutuhan petani tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
Di sisi budidaya, petani juga didorong menyesuaikan pola tanam berdasarkan prakiraan iklim. Penggunaan varietas padi yang lebih tahan terhadap cekaman kekeringan menjadi salah satu strategi yang direkomendasikan, di antaranya Inpago 4, Inpago 5, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11 Agritan, Inpari 32, Inpari 38 Tadah Hujan Agritan, serta varietas lokal yang telah terbukti adaptif terhadap kondisi minim air.
Selain mempercepat mobilisasi pompa air ke wilayah yang membutuhkan, pemerintah juga mendorong pembangunan jaringan perpipaan dari sumber air terdekat menuju lahan pertanian yang rawan kekeringan.
Sebagai langkah perlindungan terhadap risiko gagal panen akibat perubahan iklim maupun bencana alam, petani juga diimbau mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sehingga memiliki jaminan apabila terjadi kerugian di kemudian hari.
Dengan berbagai langkah antisipatif tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi optimistis sektor pertanian tetap mampu menjaga produktivitas selama musim kemarau. Upaya pencegahan yang dilakukan sejak dini diharapkan tidak hanya menghindarkan petani dari ancaman puso, tetapi juga memastikan pasokan pangan Kabupaten Bekasi tetap stabil sepanjang tahun.( Redaksi)




