-->
  • Jelajahi

    Copyright © trilokanews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Atas 2

     


    Iklan Atas 1

     


    FWJI GERAM, KONSULTAN DIAM DITANYA PAKAI ASPAL APA DAN KEENCERAN PRIME COAT, DIDUGA TUTUP MATA DI KEGIATAN DISPERKIMTAN

    trilokanews
    Selasa, November 03, 2026, 17.42 WIB Last Updated 2026-11-03T10:45:43Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    trilokanews.com - Kabupaten Bekasi - Diduga menemukan indikasi awal pada permukaan aspal proyek Peningkatan Jalan Lingkungan RT. 001 RW. 005, Kelurahan Telaga Asih, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, yang terlihat kasar dengan pori-pori besar dan terbuka.

    Proyek ini dikerjakan oleh CV. Karya Putra Muda, dengan nilai kontrak Rp 227.973.028 yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026. Berdasarkan papan proyek di lokasi, pekerjaan ini dilaksanakan selama 60 hari kalender, mulai 16 Oktober 2026 dan dijadwalkan selesai pada 14 Desember 2026, dengan Nomor SPMK 600.2.10.2/115/595/SPMK/KP. DISPERKIMTAN/APBD/2026, di bawah Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Bekasi (Disperkimtan).

    Pengaspalan dilakukan pada Selasa, 28 Oktober 2026. Dari dokumentasi TRiloka News di lokasi, terlihat para pekerja meratakan aspal secara manual menggunakan garukan besi, di jalan lingkungan yang sempit di depan rumah warga. Aspal yang baru dituang diratakan dengan garukan tangan, lalu dipadatkan dengan roller merk SAKAI warna kuning yang melintas di atas permukaan jalan.

    Terlihat sebuah ember berisi cairan berwarna coklat yang sangat encer, yang diduga merupakan prime coat, yaitu lapisan dasar yang disiramkan sebelum aspal digelar. Di samping ember tersebut terdapat gerobak berisi aspal dengan batu agregat yang terlihat kasar dan besar. Kondisi cairan prime coat yang terlihat sangat encer itulah yang menjadi dasar pertanyaan awak media di lokasi.

    Pada saat pengaspalan berlangsung, awak media TRiloka News yang berada di lokasi mencoba mengonfirmasi langsung kepada pihak konsultan pengawas yang ada di tempat, seorang pria berkacamata yang mengenakan rompi hitam bergaris kuning, yang biasa dipanggil Gina. Media menanyakan berapa keenceran prime coat yang sedang digelar, meminta agar ditunjukkan seperti apa keenceran tersebut, menanyakan aspal jenis apa yang digunakan dalam proyek ini, dan menanyakan untuk pemadatan, berapa kali gilas roller dilakukan.

    Namun, pria tersebut tidak memberikan jawaban. Dalam video, ia terlihat menunduk, tersenyum, lalu berjalan menjauh dari awak media dan tidak menjelaskan apa pun. Di lokasi juga terdengar ucapan, "Enggak boleh tahu. Sudah, sudah diam bae," sehingga informasi mengenai keenceran, jenis aspal, dan jumlah lintasan pemadatan tidak dapat diperoleh di lapangan saat itu juga. Konsultan diam dan bungkam.

    Awak media kemudian mengonfirmasi hal yang sama kepada pengawas yang ada di lokasi. Pengawas tersebut tidak menjawab pertanyaan media, dan malah menjawab agar menanyakan langsung ke konsultan saja.

    Menanggapi hal tersebut, Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Korwil Kabupaten Bekasi, Mariam, angkat bicara dan geram. FWJI menilai, sikap diam dan ucapan "enggak boleh tahu" yang diterima awak media di lokasi proyek yang dibiayai APBD adalah sikap yang tidak pantas dan bertentangan dengan semangat keterbukaan informasi publik. Konsultan pengawas yang seharusnya mengawasi dan menjelaskan pekerjaan di lapangan, justru diduga tutup mata dan memilih diam saat ditanya media di kegiatan Disperkimtan tersebut.

    FWJI menegaskan, wartawan yang datang ke lokasi proyek dan menanyakan spesifikasi pekerjaan sedang menjalankan tugas jurnalistik yang dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Proyek yang dibiayai uang rakyat, kata FWJI, wajib terbuka dan dapat dijelaskan kepada media, bukan justru ditutup-tutupi dan dijauhi.

    FWJI meminta konsultan, pengawas, pelaksana, dan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Bekasi, untuk memberikan penjelasan secara terbuka mengenai keenceran prime coat, jenis aspal, dan jumlah lintasan pemadatan yang dilakukan. FWJI juga meminta agar tidak ada lagi pihak di lapangan yang menghalang-halangi Wartawan dalam menjalankan tugasnya.

    Pada Senin, 2 November 2026, di lokasi proyek sudah terlihat jejak coredrill, ( PHO) berupa bekas lingkaran pengambilan contoh aspal di permukaan jalan. Namun disayangkan tidak adanya coretan yang bertuliskan STA Berapa dilokasi tersebut. Secara waktu, pengambilan contoh dengan coredrill setelah 5 hari pengaspalan adalah hal yang wajar, karena aspal sudah dingin dan sudah dapat diambil contohnya untuk diuji. Namun hingga pemberitaan ini dibuat, TRiloka News belum memperoleh penjelasan mengenai siapa yang melakukan coredrill tersebut, di titik mana saja pengambilan dilakukan, berapa hasil ketebalan dan kepadatannya, dan ke laboratorium mana sampel tersebut dibawa untuk diuji.

    Pada Selasa, 3 November 2026, pukul 08.08 WIB, TRiloka News kembali melakukan pantauan di lokasi yang sama. Dari dokumentasi foto yang diambil dari jarak dekat dan jarak jauh, permukaan aspal terlihat tetap tidak rapat. Batu agregat tidak menempel sempurna, dan rongga-rongga kecil terlihat merata di hampir seluruh permukaan, meskipun proses pemadatan dengan roller sudah dilakukan pada saat pengaspalan.

    Penggunaan roller kecil merk SAKAI dinilai wajar untuk jalan lingkungan yang sempit, karena roller besar tidak dapat masuk dan bermanuver di lokasi tersebut. Namun hasil akhir di lapangan tetap harus dibuktikan dengan uji kepadatan, karena permukaan aspal yang sudah digilas tetap terlihat berpori besar.

    Secara kasat mata, kondisi tersebut mengindikasikan aspal kurang padat. Pori-pori yang besar dan terbuka membuat air mudah masuk ke dalam lapisan aspal, sehingga berpotensi mempercepat kerusakan, seperti batu lepas, retak, dan berlubang, meskipun jalan tersebut baru selesai diaspal.

    TRiloka News menegaskan, temuan ini masih bersifat indikasi awal dan belum menjadi kesimpulan akhir. Temuan ini baru berupa pengamatan visual di lapangan, yang harus dibuktikan secara teknis agar tidak menjadi asumsi.

    Untuk itu, TRiloka News meminta agar hasil core drill tanggal 2 November 2026 tersebut dibuka secara transparan, termasuk penjelasan mengenai keenceran prime coat, jenis aspal yang digunakan, dan jumlah lintasan pemadatan. Hasil uji ketebalan dan kepadatan dari laboratorium, beserta berita acara pengambilan contohnya, diharapkan dapat disampaikan kepada publik dan dibandingkan dengan spesifikasi yang tercantum dalam RAB dan kontrak.

    TRiloka News berharap Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Bekasi, bersama pelaksana, dapat segera menindaklanjuti temuan ini sebelum masa pelaksanaan berakhir pada 14 Desember 2026, agar jalan yang dibangun dengan anggaran daerah benar-benar awet, padat sesuai spesifikasi, dan bermanfaat bagi masyarakat Kelurahan Telaga Asih.

    TRiloka News dalam pemberitaan ini tidak menuduh pihak mana pun. TRiloka News hanya menyampaikan temuan awal di lapangan dan meminta pembuktian secara teknis serta keterbukaan informasi, karena proyek yang dibiayai APBD seharusnya terbuka terhadap pengawasan media dan masyarakat.

    Reporter Catur Sujatmiko 
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini