-->
  • Jelajahi

    Copyright © trilokanews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Atas 2

    Iklan Atas 1

    Dibelakang Kantor Kecamatan Cibitung, Pria Tak Mampu Tinggal di Gubuk Reyot Tanpa Bantuan Sosial

    trilokanews
    Kamis, Januari 29, 2026, 16.00 WIB Last Updated 2026-01-29T11:38:14Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    trilokanews.com - Kabupaten Bekasi – Potret kemiskinan ekstrem masih nyata terjadi di Kabupaten Bekasi. Seorang pria paruh baya bernama Naim terpaksa bertahan hidup di sebuah gubuk reyot yang berdiri tepat di belakang Kantor Kecamatan Cibitung, ironisnya hanya berjarak beberapa meter dari pusat pelayanan pemerintahan.

    Gubuk yang ditempati Naim jauh dari kata layak huni. Atapnya bocor, dindingnya rapuh, maupun sumber air bersih. Di tempat terbuka itulah ia menjalani hari-hari dalam keterbatasan, menghadapi dingin malam dan hujan tanpa perlindungan memadai.

    Saat ditemui awak media, Naim mengaku tidak pernah menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Langsung Tunai (BLT), maupun bantuan pemerintah lainnya. Selama ini, ia hanya sesekali menerima bantuan berupa beras sekitar tiga liter dari Baznas.

    “Saya tidak dapat bantuan PKH, BLT, atau yang lain. Cuma pernah dapat beras dari Baznas, itu juga sekitar tiga liter,” ujar Naim dengan nada lirih.

    Naim menceritakan bahwa sebelumnya ia memiliki rumah yang tak jauh dari lokasi tersebut. Namun, rumah itu terpaksa dijual demi membiayai pengobatan sang istri yang menderita sakit komplikasi.

    “Dulu saya punya rumah dekat sini, tapi dijual buat berobat istri. Karena sakitnya komplikasi dan butuh biaya besar,” ungkapnya.

    Setelah tidak memiliki tempat tinggal dan kehabisan biaya, Naim membangun gubuk sederhana di atas lahan milik orang lain. Sementara itu, anaknya terpaksa menumpang tinggal di rumah saudara.

    Untuk kebutuhan sehari-hari, Naim mengandalkan fasilitas Kantor Kecamatan Cibitung. Ia mandi dan mengambil air di sana, meski dengan keterbatasan dan rasa sungkan.

    “Saya mandi di kantor kecamatan, ambil air juga di sana,” katanya.

    Dengan kondisi kesehatan yang mulai menurun dan usia yang tidak lagi muda, Naim hanya bisa pasrah menjalani hidup dalam keterbatasan.

    “Tidur di bale ini, tinggal di sini sudah lama. Atap bocor, dingin ya dihayokan saja. Pasrah saja kepada Allah. Hidup dan mati kita pasrah kepada Allah, mau gimana lagi,” ucapnya.(Catur Sujatmiko)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini