Momentum tersebut berlangsung di Gedung Auditorium Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, Selasa (22/9/2026). Sejumlah tokoh nasional dan daerah turut hadir, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau Gus Imin, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, serta Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau Mas Rio bersama jajaran Forkopimda.
Kehadiran para tokoh tersebut mempertegas posisi Universitas Ibrahimy dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo sebagai salah satu simpul penting pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan pengabdian kepada masyarakat.
Di hadapan para lulusan, Gus Imin menegaskan bahwa toga bukanlah garis akhir perjalanan pendidikan.
Ia justru menyebut kelulusan sebagai awal dari tanggung jawab baru untuk mengabdikan ilmu bagi umat, masyarakat, bangsa, dan negara.
“Selamat datang pasukan baru pejuang-pejuang kebangsaan,” ujar Gus Imin.
Pesan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam prosesi wisuda. Para lulusan diingatkan untuk memasuki kehidupan pascakampus dengan kesungguhan, disiplin dan konsistensi, tanpa meninggalkan nilai-nilai serta ilmu yang telah mereka dapatkan selama menjalani pendidikan.
Bagi Gus Imin, lulusan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dituntut untuk diterjemahkan menjadi kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Emil Dardak: 526 Generasi Penerus Lahir dari Kampus Pesantren
Apresiasi serupa disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.
Emil menilai keberadaan Universitas Ibrahimy memiliki arti penting bagi pengembangan pendidikan, khususnya di kawasan timur Pulau Jawa. Kampus yang tumbuh dalam lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo itu dinilai menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang terus berkembang.
“Alhamdulillah, 526 generasi penerus bangsa akan terlahir dari pondok pesantren yang penuh sejarah dan luar biasa hari ini,” kata Emil.
Menurut Emil, penguatan pendidikan membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah dan berbagai institusi pendidikan. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen memperkuat kerja sama dengan Universitas Ibrahimy, termasuk dalam pengembangan pendidikan dan kesempatan beasiswa.
Sinergi tersebut diharapkan membuka ruang lebih luas bagi lahirnya tenaga pendidik dan cendekiawan yang dapat berkontribusi bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.
Mas Rio dan Agenda Penguatan SDM Situbondo
Di tengah momentum tersebut, kehadiran Bupati Situbondo Mas Rio membawa pesan tersendiri bagi pembangunan daerah.
Pemerintah daerah tidak bisa hanya berbicara mengenai pembangunan fisik. Peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menentukan arah Situbondo menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, kolaborasi pemerintah daerah dengan perguruan tinggi dan pesantren menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkuat kualitas generasi muda.
Kehadiran Mas Rio dalam wisuda tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Situbondo terhadap pengembangan pendidikan tinggi dan pesantren sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia.
526 Wisudawan, 494 Sarjana dan 32 Magister
Rektor Universitas Ibrahimy Dr. H. Khairul Anwar, M.H.I. menjelaskan, Wisuda ke-35 diikuti 526 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 494 lulusan berasal dari program sarjana dan 32 lulusan dari program magister.
Secara keseluruhan, Universitas Ibrahimy memiliki 1.053 lulusan dalam rangkaian wisuda tersebut.
Namun, bagi pihak kampus, angka tersebut bukan sekadar statistik akademik.
Ada tanggung jawab yang mengikuti setiap gelar yang disandang para alumni.
Khairul Anwar mengingatkan para lulusan agar tidak berhenti pada pencapaian akademik. Setelah meninggalkan kampus, para alumni diharapkan segera mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dengan memberikan manfaat di lingkungan masing-masing.
Pesan tersebut merujuk pada ajaran Kiai Syamsul Arifin yang menekankan pentingnya pengabdian setelah seseorang memperoleh ilmu.
“Setelah lulus kita semua setidaknya adalah ngorong Al-Qur'an. Artinya ngajar ngaji kepada keluarga, kepada tetangga, dan masyarakat sekitarnya,” ujar Khairul Anwar.
Pesan itu sekaligus menegaskan karakter pendidikan yang dibangun di lingkungan pesantren: ilmu tidak berhenti pada ijazah, tetapi harus bergerak menjadi pengabdian.
Wisuda ke-35 Universitas Ibrahimy akhirnya tidak hanya menjadi penanda berakhirnya masa studi ratusan mahasiswa. Lebih jauh, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan baru memiliki makna ketika ilmu yang diperoleh mampu hadir dan memberi manfaat di tengah masyarakat.
Bagi Situbondo, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi dan pesantren menjadi modal penting untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya berpendidikan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial dan pembangunan daerah.
Bersumber dari Pemkab Situbondo
Redaksi




