trilokanews.com - Kabupaten Bekasi - Ketua Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Korwil Kabupaten Bekasi, Mariam, menyoroti kondisi Gedung Olahraga Squash berstandar internasional yang berada di kawasan Kompleks Pemerintah Kabupaten Bekasi. Gedung yang dibangun dengan anggaran mencapai Rp43 miliar tersebut dinilai memiliki kualitas bangunan yang memprihatinkan.
Gedung sarana olahraga itu diketahui berdiri di atas lahan seluas 1.600 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 3.054 meter persegi. Namun, kondisi fisik bangunan yang baru dibangun itu justru menimbulkan tanda tanya besar.
Mariam mengaku telah mendatangi langsung lokasi gedung squash tersebut untuk melihat kondisi bangunannya. Menurutnya, sebagai warga Kabupaten Bekasi tentu merasa bangga karena pemerintah daerah mampu membangun sarana olahraga berstandar internasional. Namun rasa bangga tersebut berubah menjadi keprihatinan ketika melihat kualitas bangunannya.
“Saya jelas datang langsung ke gedung olahraga squash berstandar internasional di area kompleks Pemda Bekasi. Bukan tidak bangga, saya bangga Pemkab Bekasi bisa membangun sarana olahraga internasional. Tapi sangat aneh, kualitas bangunannya seperti rumah subsidi,” ujar Mariam.
Ia mengungkapkan sejumlah kerusakan yang terlihat pada bangunan tersebut, di antaranya dinding yang sudah retak, pemasangan keramik yang tidak rapih dengan jarak cukup jauh dari dinding, atap yang bocor dan terangkat, hingga plesteran yang terlihat kasar.
“Kalau rumah subsidi mungkin wajar kualitasnya seperti itu. Tapi ini bangunan standar internasional dengan anggaran besar. Kok sudah retak, keramiknya jauh dari dinding, atap bocor bahkan ada yang terangkat, plesterannya kasar. Silakan masyarakat datang sendiri melihat kondisi gedung squash di area Pemda Bekasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mariam mempertanyakan fungsi pengawasan dalam pembangunan proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut. Ia menilai pembangunan gedung seharusnya diawasi secara ketat oleh berbagai pihak yang memiliki kewenangan.
“Padahal pembangunan ini dilakukan di tengah efisiensi anggaran. Proyek sebesar ini seharusnya diawasi oleh pengawas proyek, konsultan, Inspektorat bahkan aparat penegak hukum. Tapi kenapa kualitasnya bisa seperti ini? Dugaan saya pembangunan gedung squash ini tidak diawasi secara maksimal,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat disayangkan karena anggaran pembangunan berasal dari pajak masyarakat.
“Anggaran itu dari pajak masyarakat. Mereka bersusah payah mencari uang untuk bayar pajak. Jangan sampai anggaran sebesar itu terbuang sia-sia karena kualitas bangunan yang tidak maksimal,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Bekasi, Iman Nugraha, saat ditemui dalam acara Safari Ramadan memberikan tanggapan terkait kondisi gedung tersebut.
Saat ditanya mengenai surat FWJI yang belum mendapat balasan serta kondisi kerusakan gedung squash, Iman menyampaikan bahwa bangunan tersebut masih dalam masa pemeliharaan.
“Masih masa pemeliharaan dan nanti akan diperbaiki karena kondisi cuaca belum mendukung. Anggaran perbaikan masih menjadi tanggung jawab kontraktor,” ujar Iman Nugraha kepada FWJI.
Meski demikian, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredakan sorotan publik. FWJI menilai perlu adanya transparansi dan pengawasan serius agar proyek pembangunan fasilitas olahraga yang menggunakan uang rakyat benar-benar memberikan manfaat dan memiliki kualitas sesuai standar didalam RAB.( Catur Sujatmiko)




