masukkan script iklan disini
trilokanews.com - Kabupaten Bekasi - Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Kepala Bagian (Kabag) Ekonomi, Asep Sutendi, menekankan pentingnya percepatan kerja sama antara perusahaan industri dengan PDAM Tirta Bhagasasi. Selain itu, ia juga mendesak agar tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) segera diturunkan demi meningkatkan pendapatan daerah.
Kabupaten Bekasi sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Asia Tenggara, dengan jumlah perusahaan mencapai lebih dari 6.500 hingga 7.600 unit usaha, baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA). Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di sejumlah kawasan industri strategis seperti Jababeka, MM2100, EJIP, dan Delta Silicon.
Kerja Sama Industri Masih Minim
Saat dikonfirmasi terkait jumlah perusahaan yang telah bekerja sama dalam penggunaan air bersih, Asep Sutendi menyampaikan bahwa hingga saat ini kerja sama masih belum optimal.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan putusan Mahkamah Agung dan peraturan daerah, PDAM Tirta Bhagasasi merupakan penyedia utama air bersih bagi kawasan industri, bisnis, hingga permukiman di Kabupaten Bekasi. Oleh karena itu, perusahaan diwajibkan mematuhi aturan penggunaan air bersih yang berlaku.
“Saya sudah menyarankan kepada Dirut PDAM agar segera melakukan pendekatan (sonding) ke perusahaan-perusahaan. Jangan hanya menjawab siap, tapi harus ada realisasi,” tegasnya.
Menurutnya, saat ini baru ada beberapa perusahaan yang mulai menjajaki kesepakatan, sementara untuk tahun berjalan belum ada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) baru.
Soroti Kinerja dan Kecepatan Dirut PDAM
Asep juga menyoroti kinerja jajaran direksi PDAM. Ia menilai kinerja sudah berjalan, namun dari sisi kecepatan masih perlu ditingkatkan.
“Secara kinerja sudah maksimal, tapi kecepatannya belum. Ini yang saya dorong agar segera dipercepat,” ujarnya.
NRW Tinggi, Pendapatan Belum Maksimal
Hal utama yang menjadi perhatian Kabag Ekonomi adalah tingginya angka NRW, yaitu selisih antara air yang diproduksi dengan yang berhasil ditagihkan ke pelanggan.
Ia mengibaratkan NRW seperti timbangan yang tidak seimbang.
“Kalau air yang dijual meningkat, otomatis pendapatan meningkat. Tapi kalau NRW tinggi, pendapatan tidak maksimal,” jelasnya.
Asep memberi contoh sederhana: jika PDAM memproduksi atau membeli 100 unit air, namun yang bisa dimanfaatkan atau terjual hanya 60, maka ada 40 yang hilang.
“PDAM tetap harus bayar 100, padahal yang dipakai hanya 60. Ini yang harus ditekan. Kalau bisa diturunkan, maka pendapatan pasti naik,” tegasnya lagi.
Ia juga menambahkan bahwa sebagian air yang dikelola PDAM berasal dari pembelian pihak ketiga, sehingga setiap kehilangan air akan langsung berdampak pada beban biaya perusahaan.
Dorongan Perbaikan Kinerja
Dengan potensi industri yang sangat besar di Kabupaten Bekasi, Asep berharap PDAM Tirta Bhagasasi mampu memaksimalkan peluang tersebut dengan memperluas kerja sama serta menekan tingkat kehilangan air.
“Kalau kerja sama dengan industri berjalan dan NRW turun, maka pendapatan akan meningkat dan pelayanan ke masyarakat juga bisa lebih baik,” pungkasnya.(Catur Sujatmiko)




