-->
  • Jelajahi

    Copyright © trilokanews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Atas 2

     


    Iklan Atas 1

    Ini Tanggapan Dede Chairul ST., MT. Kabid Pembangunan Jalan DSDABMBK Kabupaten Bekasi Terkait Jalan CBL Ambles

    trilokanews
    Jumat, Juni 05, 2026, 13.59 WIB Last Updated 2026-06-05T08:29:18Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    trilokanews.com - Kabupaten Bekasi - Fenomena jalan ambles yang terus terjadi di sepanjang Jalan Cikarang Bekasi Laut (CBL) kembali menjadi sorotan masyarakat. Meski perbaikan rutin dilakukan setiap tahun, kerusakan serupa terus muncul di titik berbeda, sehingga membutuhkan solusi jangka panjang dan sinergi lintas instansi.

    Kepala Bidang Pembangunan Jalan pada DSDABMBK Kabupaten Bekasi, Dede Chairul ST., MT., menjelaskan bahwa kondisi geografis Jalan CBL menjadi salah satu penyebab utama terjadinya amblesan di sejumlah titik.

    Menurutnya, Jalan CBL berada di antara dua jalur aliran air, yakni saluran irigasi di bagian atas dan Kali CBL di bagian bawah. Kondisi tersebut membuat struktur tanah di kawasan tersebut cenderung labil dan rentan mengalami pergeseran.

    "Jalan di CBL itu ada dua sisi, satu sisi saluran irigasi di bagian atas dan kedua Kali CBL yang berada di bawah. Karena kondisi seperti itu kemungkinan besar tanah yang berada di sana labil," ujar Dede saat diwawancarai awak media.

    Ia menambahkan Air yang menggenangi jalan dan kawasan sekitar berpotensi menggerus struktur tanah sehingga memicu terjadinya amblesan di lokasi yang berbeda.

    "Kemarin sempat banjir. Ketika banjir menggenangi jalan, memang seperti itu. Setiap tahun kita perbaiki jalan CBL di satu titik, bergeser lagi ke titik lainnya. Jadi akan selamanya seperti itu. Kalau titik ini dibenarkan, nanti bisa muncul lagi di titik lain karena posisi jalannya berada di tengah-tengah," jelasnya.

    Anggaran Darurat Sudah Disiapkan

    Sebagai langkah penanganan, DSDABMBK Kabupaten Bekasi telah menyiapkan anggaran darurat untuk memperbaiki titik-titik jalan yang mengalami kerusakan.

    Namun demikian, proses pelaksanaan masih terkendala sejumlah regulasi dan penyesuaian teknis. Selain itu, perubahan harga material akibat kenaikan harga BBM juga mempengaruhi perencanaan anggaran yang telah disusun sebelumnya.

    "Kita sudah menganggarkan anggaran darurat di situ, mudah-mudahan tahun ini dapat diselesaikan. Saat ini kita terkendala regulasi dan teknis Bina Marga terbaru yang harus disesuaikan. Kemarin juga ada kenaikan harga BBM sehingga RAB yang sudah direncanakan harus diubah total," katanya.

    Dede menegaskan pihaknya tidak ingin pelaksanaan proyek terkendala akibat ketidaksesuaian harga dengan kondisi pasar yang dapat merugikan penyedia jasa konstruksi.

    Lebih lanjut, Dede mengungkapkan bahwa solusi permanen untuk mengatasi persoalan Jalan CBL tidak bisa hanya dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi. Diperlukan kerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) karena saluran irigasi dan aliran sungai yang berada di kawasan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat.

    Menurutnya, apabila bantaran sungai diperkuat menggunakan sheet pile, maka potensi longsor dan amblesnya badan jalan dapat diminimalkan secara signifikan.

    "Kalau jalan kita itu di-sheet pile, seharusnya jalan bakal aman. Namun itu bukan kewenangan kita. Saluran irigasi dan sungainya merupakan kewenangan BBWS," ungkapnya.

    Meski demikian, kebutuhan anggaran untuk pemasangan sheet pile di sepanjang jalur CBL terbilang sangat besar. Dengan panjang jalan sekitar delapan kilometer, biaya pemasangan sheet pile diperkirakan mencapai Rp20 miliar per kilometer.

    "CBL panjangnya kurang lebih delapan kilometer. Untuk satu kilometer saja pemasangan sheet pile bisa menghabiskan anggaran sekitar Rp20 miliar. Kalau dirapikan semuanya bisa mencapai ratusan miliar rupiah," terangnya.

    Karena itu, untuk sementara Pemkab Bekasi akan terus melakukan penanganan darurat di titik-titik yang mengalami amblesan sambil menunggu solusi jangka panjang yang melibatkan pemerintah pusat.

    "Kita akan terus tangani titik-titik yang mengalami longsor atau ambles. Namun harus dipahami bahwa titik kerusakan bisa saja bergeser karena kondisi alam dan struktur tanah di kawasan tersebut," tutup Dede.( Redaksi)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini