-->
  • Jelajahi

    Copyright © trilokanews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Atas 2

     


    Iklan Atas 1

     


    Berdampak Mendalam Tugu Adipura Hilang Kesadaran Masyarakat Buang Sampah, Proyek Air Mancur Tak Bermanfaat Ratusn Milyar Sia-Sia, Hukum Tutup Mata

    trilokanews
    Senin, Maret 16, 2026, 23.08 WIB Last Updated 2026-03-16T16:08:46Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

     


    Kota Lubuk Lingga - Trilokanews, belum lama ini maraknya berita online sekolah olah menyalahkan perjuang para pengelola sampah beraroma busuk menyengat demi lingkungan tetap terjaga di Kota Lubuk Linggau dan juga sempat viral menjadi perdebatan di medsos bagi kalangan pemerhati terkait tumpukan sampah ada dimana mana sepanjang jalan di 8 Kecamatan wilayah Kota Lubuk Linggau. Senin, 16 Maret 2026.

    Ini terjadi akibat kurang nya kesadaran masyarakat Kota Lubuk Linggau dalam membuang sampah, yang tidak tepat waktu. Jika tepat waktu dengan jumlah keadaan amarda 10 tahun ke Pemimpin Nansuko yang minim mengharukan atau mengusulkan pengadaan kendaraan operasional pengangkut sampah. 

    Namun banyak kalangan masyarakat memberikan penilaian jelek terhadap Dinas Pengelola sampah di Kota Lubuk Linggau, padahal kalau masyarakat mengetahui keadaan operasional Armada pengangkut sampah di Kota Lubuk Linggau tidak seimbang dengan jumlah sampah di Kota Lubuk Linggau.

    Melihat dari jumlah penduduk di Kota Lubuk Linggau sampai dengan tahun 2024 saat ini, diperkirakan mencapai 245.287 jiwa. Kepadatan penduduknya mencapai 605 jiwa per kilometer persegi. Berikut ini adalah jumlah penduduk Kota Lubuk Linggau berdasarkan umur pada bulan Juni 2024 yaitu :
    16,66 ribu jiwa (6,79%) berusia 0-4 tahun
    62.266 jiwa (anak-anak usia 0-14 tahun)
    9,36% penduduk berusia lebih dari 60 tahun. 

    Jadi menyikapi hal diatas wajar dengan kemampuan Armada pengangkut sampah yang ada di Kota Lubuk Linggau hanya 13 armada dump truck dengan ukuran besar yang muatanya masing-masing 3 Ton. Dari 13 mobil tersebut, terdapat Mobil DLH yang pengadaan dari tahun 2001 jumlahnya ada delapan mobil, sedangkan mobil yang baru pengadaan tahun 2026 hanya ada berapa armada yang masih layak operasi. 

    Melihat dari kondisi diatas seharusnya 10 tahun ke Pemimpin Nansuko secara bertahap mengadakan Armada pengangkut sampah, jika 1 tahun kepemimpinan mengadakan 2 unit dump truk, maka 10 tahun bisa 20 unit dump truk. Sehingga bisa berimbang dengan jumlah penduduk Kota Lubuklinggau, ya setidaknya kendaraan aktif paling sedikit ada 25 kendaraan pengangkut sampah dikota Lubuklinggau dibagi 8 kecamatan sampah akan teratasi. 

    Ini malah 10 tahun kepemimpinan nasuko dari tahun 2013-2024, sibuk membangun proyek mercusuar yang faktanya tidak bermanfaat bagi masyarakat dan menunjang PAD, malah menjadi beban APBD Kota Lubuk Linggau disetiap tahunnya, akan tetapi bisa bebas dari jeratan hukum seperti :
    1. Pembangunan Lift Menara Mesjid Agung tak berfungsi, 
    2. Tugu Air Mancur mati total semua, 
    3. Inclinator tak bermanfaat, 
    4. Tanjak sudah amburadul, 
    5. Jembatan penyebrangan dan lapak mini toko sepanjang rell tempat mesum, 
    6. Gedung Silat, 
    7. Kolam Renang Olahraga Petanang rusak, 
    8. Res area tak bermanfaat dan 
    9. Pantai Buatan tak jelas, masih banyak yang lainnya proyek tak bermanfaat.

    Padahal Tugu Adipura yang dulunya menjadi simbol kebersihan Kota Lubuk Linggau kini telah digantikan oleh taman air mancur. Tugu Adipura yang berlokasi di Pasar Mambo diganti dengan air mancur yang dibangun hanya bertahan berapa tahun menjadi air mancur  tumpukan sampah dan tempat orang membuang air kecil. Dulu sempat di janjikan Walikota Nansuko dikepemimpinan nya akan dibangun kembali Tugu Adipura di kawasan perbatasan ditiga titik batas Kota Lubuk Linggau. Namun sampai akhir kepemimpinan nya itu hanya cerita dongeng bagi masyarakat Lubuk Linggau. 

    Padahal Piala Adipura adalah salah satu penghargaan tertinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Karena 
    Penghargaan ini menjadi cerminan komitmen suatu daerah dalam menjaga kebersihan lingkungan, dan menjadi indikator keberhasilan pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau, serta pencemaran udara dan air.

    Hilangnya Tugu Adipura diganti dengan Air Mancur menari nari katanya, saat ini menimbulkan pertanyaan tentang perubahan fokus pemerintah kota dalam mengelola dan mempromosikan kebersihan lingkungan. Meskipun awalnya taman air mancur bisa menjadi daya tarik baru sesaat saja. Kini hilangnya Tugu Adipura menunjukkan kurangnya pengakuan terhadap prestasi masa lalu dan komitmen terhadap pengelolaan lingkungan pasangan Nansuko, tegas pemerhati kebersihan lingkungan Kota Lubuklinggau inisial A (A_01).
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini