-->
  • Jelajahi

    Copyright © trilokanews
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Atas 2

     


    Iklan Atas 1

    ARMUZNA : Bukan Sekedar Puncak Ibadah, Namun Puncak Pelayanan dan Pengabdian Petugas/PPIH Kepada Jemaah Haji Indonesia

    trilokanews
    Senin, Mei 25, 2026, 09.37 WIB Last Updated 2026-05-25T02:37:02Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    trilokanews.com - Arab Saudi - Menjelang fase Armuzna, ribuan petugas haji Indonesia diuji bukan hanya secara fisik, tetapi juga ketulusan pengabdian dalam melayani tamu Allah di Tanah Suci. Puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M, fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) kembali menjadi perhatian dunia. Fase monumental ini bukan hanya menjadi titik kulminasi ritual ibadah haji, tetapi juga menjadi ujian besar bagi ribuan petugas penyelenggara ibadah haji Indonesia (PPIH) yang bertugas di Arab Saudi.

    Hal tersebut disampaikan Rio Chandra Kesuma, Petugas Haji/PPIH Daker Bandara, dalam sebuah tulisan reflektif yang menggambarkan bagaimana Armuzna bukan sekadar perjalanan spiritual jemaah, melainkan juga puncak pelayanan dan pengabdian para petugas haji Indonesia.

    “Dalam pandangan petugas haji, Armuzna bukan hanya puncak ibadah bagi jemaah, tetapi juga puncak perjuangan dan pengabdian petugas dalam melayani tamu Allah,” tulis Rio.

    Diperkirakan lebih dari 1,6 juta jemaah muslim dari 180 negara akan mengikuti puncak ibadah haji tahun ini, termasuk sekitar 221 ribu jemaah asal Indonesia yang telah berada di Arab Saudi.

    Fase Armuzna sendiri dimulai dari wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah, yang menjadi salah satu rukun utama ibadah haji. Selanjutnya jemaah bergerak menuju Muzdalifah dan Mina untuk menjalani rangkaian mabit dan lempar jumrah.

    Pada pelaksanaan tahun ini, Pemerintah Indonesia juga kembali menerapkan skema murur dan tanazul guna mengurangi kepadatan dan meminimalisir risiko kesehatan jemaah, khususnya bagi lansia, disabilitas dan jemaah risiko tinggi.

    Diproyeksikan sekitar 80 ribu jemaah mengikuti skema murur dan 20 ribu jemaah mengikuti skema tanazul.

    Rio menilai, dibalik kelancaran pergerakan jutaan jemaah tersebut, terdapat perjuangan besar para petugas haji yang harus bekerja dalam kondisi cuaca ekstrem, tekanan operasional tinggi, hingga keterbatasan fisik dan mental.

    Menurutnya, sebagian besar petugas saat ini sudah berada dalam fase kelelahan setelah menjalani operasional kedatangan jemaah gelombang pertama dan kedua. Namun demikian, semangat pelayanan harus tetap dijaga.

    “Tidak ada ruang untuk mengeluh. Yang ada adalah melanjutkan perjuangan melayani jemaah dengan semangat yang dimulai lagi dari nol,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan pentingnya kesiapan fisik dan spiritual para petugas menjelang Armuzna. Manajemen stamina, istirahat cukup, konsumsi makanan bergizi hingga penguatan spiritual dinilai menjadi faktor penting agar petugas mampu menjalankan amanah secara maksimal.

    “Petugas haji tetap manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Karena itu penting untuk mengukur kemampuan diri dan tidak memaksakan tenaga di tengah medan operasi haji yang sangat berat,” tambahnya.

    Rio meyakini, setiap pelayanan yang diberikan dengan tulus kepada jemaah haji akan bernilai ibadah dan menjadi jalan menuju predikat “petugas haji yang mabrur”.

    Di akhir tulisannya, Rio mengajak seluruh petugas PPIH 1447 H/2026 M untuk tetap solid, saling membantu dan menjaga semangat pengabdian dalam melayani jemaah Indonesia di Tanah Suci.

    “Biarkan lelah menjadi ladang pahala. Yakinlah, setiap tetes keringat dalam melayani tamu Allah akan menjadi amal yang tak ternilai,” tutupnya.(Redaksi)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini