masukkan script iklan disini
trilokanews.com - Situbondo - Penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) limbah dapur berhasil meningkatkan produksi sekaligus mendongkrak hasil panen padi secara signifikan yang sebelumnya 7,3 ton menjadi 9,1 ton dalam satu hektare.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para inovator yang berhasil mengawinkan solusi lingkungan dengan kebutuhan pertanian.
"Ini gerakan luar biasa dari komunitas peduli sampah yang juga aktif di pertanian. Mereka tahu cara mengurai persoalan sampah dan mengaitkannya dengan kebutuhan pertanian, di saat kebutuhan pupuk saat ini begitu tinggi," ujar Mas Rio sapaan akrabnya Bupati Situbondo, Kamis (18/06/2026).
Diketahui, Berdasarkan hasil ubinan di lapangan, produktivitas padi yang menggunakan nutrisi limbah dapur ini melesat menjadi 9,1 ton per hektar. Angka ini naik tajam dibandingkan rata-rata hasil panen sebelumnya yang hanya berada di kisaran 7,3 hingga 8 ton per hektar.
Selain mendongkrak hasil, inovasi ini membawa tiga manfaat utama bagi petani: mengurangi ketergantungan pupuk kimia hingga 30 persen, memangkas masa tanam, dan menghemat biaya operasional.
"Manfaatnya sangat besar dan nyata. Saya minta kecamatan lain menjadikan ini sebagai benchmarking (percontohan) untuk seluruh petani," ungkap Mas Rio.
Selain itu, Mas Rio juga mengingatkan para inovator untuk segera melengkapi legalitas dan perizinan produk melalui dinas terkait. "Kami (Bupati Situbondo Mas Rio, red) juga menyarankan kolaborasi dengan akademisi kampus demi mendapatkan penilaian ilmiah (academic judgement) untuk menyempurnakan formula tersebut. Langkah masif ini diharapkan mampu mendukung target swasembada 500 ribu ton Kabupaten Situbondo pada tahun 2026," imbuhnya.
Sementara itu, Inovator pupuk organik cair Purwanto mengatakan pihaknya merintis formula nutrisi tanaman dari limbah rumah tangga sejak tahun 2015.
Setelah melalui masa uji coba yang panjang, gerakan ini resmi diterapkan secara luas pada tahun 2026. Inovasi ini juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di lingkungannya untuk membantu perputaran ekonomi warga.
Lebih jauh, Purwanto menjelaskan bahwa formula organik ini memangkas pengeluaran pupuk konvensional, menjaga ekosistem tanah karena bebas kimia, dan meningkatkan hasil panen.
Sebelum menggunakan formula ini, hasil panen petani binaan hanya sekitar 6 ton per hektar. Setelah uji coba bakteri dan pestisida nabati (pesnap), hasilnya merangkak naik ke 8 ton, lalu 8,5 ton, hingga kini menembus 9,1 ton per hektar.
"Angka ini masih bisa ditingkatkan. Lahan yang saya kelola pribadi bahkan bisa mencapai 12 ton per hektar," terang Purwanto.
Untuk mencapai hasil maksimal, ia akan memberikan pendampingan intensif kepada petani selama 4 bulan dengan kebutuhan formula 12 liter per hektar.
Menurutnya, perjalanan dirinya tidak mudah. Di awal pergerakannya, ia kerap dicibir warga yang mengira dirinya adalah sales obat keliling.
"Selain tantangan sosial, juga menghadapi kendala birokrasi, saya berharap pemerintah daerah bersedia membantu proses legalitas formulanya yang sulit diurus mandiri," bebernya.
Saat ini, kapasitas produksi nutrisi ini mencapai 500 liter per bulan. Purwanto memilih bekerja sama dengan Bank Sampah Induk (BSI) Situbondo untuk distribusinya.
"Produk ini tidak dijual bebas di pasar komersial, melainkan didistribusikan melalui sistem non-tunai khusus bagi kalangan internal dan nasabah bank sampah sebagai bentuk apresiasi atas kepedulian lingkungan mereka," pungkasnya.(Baim)





