masukkan script iklan disini
trilokanews.com - Kota Bekasi - Kepedulian terhadap persoalan sampah di lingkungan permukiman mulai diwujudkan dalam aksi nyata. PT Bridgestone melalui STIAMI menyalurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa satu unit mesin pencacah kompos sekaligus pelatihan pengelolaan bank sampah kepada warga RW 25, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi.
Bantuan tersebut diserahkan dalam rangka mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat, terutama dengan mengubah sampah rumah tangga dari sekadar limbah menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat dan ekonomi.
Kegiatan pelatihan bank sampah digelar di halaman Masjid Al Ikhlas, RT 6/RW 25, pada Sabtu, 12 September 2026. Pelatihan dipandu langsung oleh Sutarno, peraih Kalpataru 2020, yang memberikan pemahaman kepada warga mengenai pemilahan, pengelolaan, hingga potensi ekonomi dari sampah.
Ketua RW 25, Bambang Imam Santoso, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan PT Bridgestone melalui STIAMI.
“Atas nama warga RW 25, kami mengucapkan terima kasih kepada PT Bridgestone melalui STIAMI yang telah memberikan bantuan berupa pelatihan dan mesin pencacah kompos. Bantuan ini sangat membantu program kami dalam mengolah sampah organik menjadi kompos,” ujar Bambang.
Menurutnya, keberadaan mesin pencacah kompos diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang selama ini berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Harapannya bisa mengurangi volume sampah dan menambah nilai ekonomi warga,” katanya.
Bambang menegaskan, program tersebut tidak berhenti pada bantuan peralatan. Warga didorong untuk mengubah kebiasaan dengan memilah sampah sejak dari rumah.
Sampah anorganik yang disetorkan warga nantinya akan ditimbang, dicatat, kemudian dihargai sesuai dengan jenisnya. Sementara sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos dengan memanfaatkan mesin pencacah yang telah diberikan.
“Target kami dalam satu tahun bisa mengurangi 30 persen sampah rumah tangga yang dibuang ke TPA. Sekaligus memberdayakan ibu-ibu PKK agar punya penghasilan tambahan,” tegas Bambang.
Langkah RW 25 mendapat apresiasi dari pihak Kelurahan Harapan Jaya. Pemerintah kelurahan menilai kolaborasi antara dunia usaha dan masyarakat menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi persoalan sampah di wilayah perkotaan.
Lurah Harapan Jaya mengapresiasi program tersebut dan mendorong perusahaan lain untuk mengambil peran serupa.
“Kami mendorong perusahaan lain ikut. CSR lingkungan seperti ini membantu program Pemkot Bekasi menuju Kota Bekasi yang bersih,” ujarnya.
Sementara itu, Anita dari STIAMI mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk mendukung program pemerintah Kota Bekasi dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat secara langsung.
“Kami berharap pelatihan terkait pengelolaan sampah dan pemberian mesin ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga. Dengan mengolah sampah dari sumbernya, kita ikut berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat,” kata Anita.
Setelah penyerahan bantuan, warga mengikuti pelatihan singkat mengenai pengoperasian mesin pencacah serta tahapan pembuatan kompos dari sampah organik rumah tangga.
Dalam sesi pelatihan bank sampah, Sutarno menjelaskan secara langsung mekanisme kerja bank sampah kepada warga. Ia juga memperkenalkan beragam jenis sampah yang dapat dipilah, dikumpulkan, dan memiliki nilai jual.
Warga diberikan pemahaman bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai sebenarnya dapat menjadi sumber pendapatan apabila dikelola secara tepat dan konsisten.
Konsep tersebut sekaligus mengubah pola pikir masyarakat: sampah tidak harus berakhir di TPA, tetapi bisa dipilah dari rumah, dikelola, dan menghasilkan nilai ekonomi.
Dengan dukungan mesin pencacah kompos dan peningkatan kapasitas warga melalui pelatihan, RW 25 Harapan Jaya diharapkan mampu menjadi salah satu percontohan pengelolaan sampah mandiri di Kecamatan Bekasi Utara.
Program ini juga menjadi gambaran bahwa persoalan sampah perkotaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Ketika perusahaan, pemerintah dan masyarakat bergerak bersama, sampah dapat ditekan dari sumbernya sekaligus menjadi peluang pemberdayaan ekonomi warga.
Reporter: Agung Ragil





